Scroll untuk baca artikel
BeritaSejarah

Optimis, Tabrani Lolos Menjadi Pahlawan Nasional

50
×

Optimis, Tabrani Lolos Menjadi Pahlawan Nasional

Sebarkan artikel ini
Sambutan Dr. Umi Kulsum, M. Hum Kepala Balai Bahasa Jawa Timur, Prof. Hariono Rektor Um, Terakhir Kepala Dinsos Jatim
Sambutan Dr. Umi Kulsum, M. Hum kepala Balai Bahasa Jawa Timur, Prof. Hariono Rektor UM, terakhir kepala Dinsos JaTIM

SURABAYA – Senin (30/10/23) Balai Bahasa Jawa Timur mengadakan kembali diskusi mengenai tokoh M. Tabrani di Hotel Movinpick Surabaya. Acara yang berlangsung sejak Jam 08:00 sampai dengan jam 15:00 sore berjalan lancar dan interaktif.

Nama M. Tabrani sampai dengan hari ini belum begitu marak dikenal oleh kalangan luas. Bahkan di Madura sendiri sebagai tempat kelahiran M. Tabrani juga masih banyak yang asing dengan nama tersebut. Diskusi yang mengusung tema “Mengenal Tabrani; Pergerakan dan Pemikirannya Melampaui Zaman. Acara tersebut bertujuan untuk memaksimalkan tersebarnya informasi ketokohan Tabrani ke pihak luas melalui peserta yang sebagian merupakan dari wartawan, mahasiswa, dan pihak dinas terkait. Sebab pada saat ini berkas usulan sudah ada di meja dewan gelar.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Menariknya pada acara diskusi tersebut, selain dijelaskan terkait proses dan kelayakan M. Tabrani sebagai pahlawan nasional, juga membedah 3 karya tulis M. Tabrani. Pertama buku Seri Minoriteit dipaparkan oleh Dr. Syarkawi. Kedua otobiografinya berjudul Anak Nakal Banyak Akal. Dari buku yang kedua tersebut dijelaskan sejarah lengkap Tabrani sejak lahir di Pamekasan, sekolah di Mulo Surabaya, Osvia Bandung sampai pada akhirnya menjadi bagian dari Kongres Pemuda Pertama tahun 1624.

Pada kesempatan tersebut ia mencetak sejarah dengan berani mengemukakan idenya tentang bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, Suatu ide yang melompat jauh pada zamannya. Selain itu, secara teknis kesuksesan pelaksanaan kongres berkat kepiawaiannya dirinya sebagai ketua penitia yang berhasil mengelabui para pengawas dari pihak Belanda yang mewanti-wanti setiap acara-acara kaum pergerakan.
Terakhir buku berjudul Ons Wapen dipaparkan oleh wartawan senior Priyantono Oemar.

Buku tersebut menegaskan obsesi ide Tabrani yang disampaikan pada kongres 1926 dimatangkan kembali dengan pers sebagai senjata atau alat untuk terciptanya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Buku tersebut merupakan karya akhir saat studi jurnalistik di Jerman.

Ketiga buku tersebut menjadi bukti autentik pikiran dan kiprah kesejarahannya sebagai tokoh yang memperjuangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Idenya juga terus ia perjuangankan melalui kegiatan persnya sebagai seoarang wartawan dan pimpinan redaksi beberapa koran. Serta masih banyak data dukung dari arsip yang lain yang menegaskan kelayakan Tabrani sebagai pahlawan nasional.
Dr. Umi Kulsum, M. Hum sebagai kepala Balai Bahasa Jawa Timur menuturkan di sela-sela diskusi; kami optimis Tabrani si anak nakal banyak akal ini kiprah dan pemikirannya menegaskan sudah sangat layak kita bangsa Indonesia memberikan gelar pahlawan nasional padanya, tandasnya.