Bermula dari Kepekaan sosial, Bunda Krisna kenalkan Batik Sampang hingga ke Mancanegara

Bermula dari Kepekaan sosial, Bunda Krisna kenalkan Batik Sampang hingga ke Mancanegara 1

 

Beberapa tahun terahir ini, Kabupaten Sampang yang sudah diangkat dari kota tertinggal sudah mulai menunjukkan berbagai prestasi di kancah lokal, regional, hingga internasional. Salah satunya yakni wujud kretifitas yakni Batik. Warisan leluhur asli Indonesia ini, kini bisa didapatkan di Kabupaten Sampang dengan corak dan motif yang berbeda serta tidak bisa ditemuidi tempat manapun.

Sebab, hal ini dipelopori oleh salah satu pngrajin batik asal Sampang yang getol mempromosikan Batik ke berbagai wilayah. Mengenalkan Sampang melalui batik mungkin bukanlah hal yang mudah. apalagi corak batik serta warna batik Madura pada umumnya cenderung warna yang cerah. Namun, di tangan Bunda Krisna, sapaan akrab dari wanita 48 tahun ini semuanya jadi indah.

Perempuan dengan nama lengkap Sri Marhayati ini merupakan warga asli Desa Jelgung, Kecamatan Robatal ini sudah bertahun-tahun tinggal di Pulau Dewata Bali. Selama 17 tahun ia sudah terjun di dunia fashion, menjadi designer baju untuk para wisatawan dari berbagai manca negara. Hingga akhirnya, tekat bulat untuk balik ke Kota asal memenuhi kewajiban sebagai anak desa yang harus kembali bermanfaat bagi tempat tinggalnya.

2 tahun silam ketika memutuskan kembali ke desanya. Ia melihat berbagai problematika perekonomian masyarakat yang begitu kacau. Masyarakat di sekitarnya cenderung memilih untuk merantau ke luar negeri demi mendapatkan penghasilan yang begitu besar. Padahal, potensi desa bisa dimanfataan secara bersama-sama untuk mengembangkan desa bersama.

Hingga akhirnya, berdasarkan kemampuan dirinya sebagai pegiat seni, ia mulai membuka usaha handy craft, membuat bros, tas, dan segala pernak pernik. Bermula dari usaha itu, tidak sedikit warga yang meremehkan akan usahanya. Namun, lambat laun ia memutuskan untuk belajar untuk membatik ke Yogyakarta selama 6 bulan. Akhirnya, berbekal dari pelajaran yang sudah di peroleh, tangan kreatifnya menuntun ia begitu berbakat dalam design batik.

Setelah menekuni bidang batik. Kemudian, ia mengajak masyarakat sekitar untuk ikut serta dalam proses pembuatan batik. Mulai dari awal proses awal, pewarnaan hingga tahap akhir semuanya dikerjakan bersama masyarakat.

Semangat jiwa sosialnya yang tinggi membuat dirinya tidak berorientasi terhadap profit matari. Sebab tujuan utamanya yakni pembedayaan masyarakat dengan memanfaatkan segala potensi. Di awal perkembangan Batik Krishna. Ia dibantu oleh 4 anak muda untuk mengembangkan usaha batik dengan maksud agar terus bisa bertahan dan melanjutkan sekolahnya. Sebab permasalahan yang terjadi yakni ketiadaan pembiayaan untuk melanjutkan pendidikan.

Selanjutnya, ia selalu bersedia untuk mengjari membatik bagi siswa-siswi SMK sekitar dengan harapan, millenial bisa kenal dengan warisan leluhur budaya. Hingga saat ini, sudah 50 anak didik yang ia ajari membatik serta sudah bisa membua batik secara mandiri.

Butik Sri Krisna selalu terbuka untuk menamoung anak-anak muda aghar bisa berkarya degan batik. Sejauh ini, banyak komunitas pemuda di Kabupaten Sampang yang sudah ia berikan pelatihan membatik. Mulai dari Karang Taruna, Forum Pemuda Sampang, Sampang Young Inspiration, Putera Puteri Batik Sampang, Kacong Cebbhing Sampang dll.

Batik Tulis Sri Krisna memiliki ciri khas yang khusus yang tidak dimiliki oleh batik yang lain. Permintaan konsumen serta filosofi dari berbagai gambar yang ada di dalam batik semuanya penuh makna dari design Bunda Krisna. Baginya, Batik Tulis adalah kerajinan tangan yang luar biasa serta harus apresiasi yang luar biasa.

Proses pembuatan yang begitu panjang serta kesabaran dan ketelitian dalam membuat batik harus diketahui oleh millenial agar bisa menghargai warisan leluhur. Sejauh ini, bunda Krishna menyediakan batik pesanan oleh berbagai OPD di tatanan pemerintah Kabupaten Sampang, OPD di berbagai wilayah Indonesia, perusahaan hingga dijual di Malaysia dan Singapura.  Corak serta design batik Sri Krisna tidak ditemui di pasaran, sebab ia hanya menjual sesuai permintaan serta butik-butik yang ada. (IFA)

 

 

Beri Komentar Anda