Pernah dengar nama Pangeran Khotib Mantoh? Sosok ulama besar generasi awal di Sampang ini menyimpan banyak cerita yang memikat. Makamnya di Sampang selalu ramai peziarah, apalagi saat malam Jumat Manis. Tapi siapa sebenarnya beliau? Bagaimana asal-usulnya? Dan apa rahasia doa Songay Rajeh yang melegenda?
Daftar Isi
Asal-Usul Pangeran Khotib Mantoh: Keturunan Sunan Giri
Nama lengkapnya adalah Syekh Zainal Abidin, lebih dikenal sebagai Pangeran Khotib Mantoh atau Khathib Mantoh. Beliau merupakan ulama karismatik di Sampang, Madura Barat.
Jejak nasabnya tercatat dalam berbagai naskah kuno Madura dan silsilah Giri Kedaton di Gresik. Di antaranya:
- Dalam buku Sedjarah Tjaranja Pemerintahan di Daerah-daerah di Kepulauan Madura karya Zainal Fattah, ia disebut sebagai Pangeran Khathib Sampang, putra Pangeran Kulon I bin Sunan Giri I.
- Dalam naskah Madura, ia disebut juga Pangeran Khathib Mantu atau Tib Manto, putra Panembahan Kulon (Sunan Kulon) bin Sunan Giri, pendiri Keraton Giri Kedaton di Gresik.
Beliau berasal dari garis keturunan Wali besar. Bahkan, saudara seibunya tercatat sebagai Nyai Gede Kedatun (ibunda Sunan Cendana), Ratu Gede Mataram, dan Nyai Gede Kentil.
Gelar dan Sebutan: Khathib Pakebunan
Dalam beberapa catatan lokal Pamekasan, beliau juga dikenal sebagai Khathib Pakebunan. Nama ini muncul karena Sunan Cendana pernah tinggal bersamanya di Sampang. Ragam nama ini menunjukkan luasnya pengaruh dan jejaring keluarga ulama besar di Madura.
Makam dan Tradisi Ziarah di Masjid Madegan
Makam Pangeran Khotib Mantoh berada di utara Masjid Madegan, Kelurahan Polagan, Sampang. Masjid ini sendiri termasuk tertua di Sampang dan dikenal sebagai tempat pelaksanaan sumpah pocong.
Hingga kini, makam beliau tak pernah sepi peziarah, terutama pada malam Jumat Manis. Banyak peziarah datang dari luar kota untuk ngalap berkah atau mengenang jasa beliau sebagai ulama besar.
Pengaruh Keilmuan dan Gelar Wali Agung
Semasa hidup, Pangeran Khotib Mantoh dikenal sebagai ulama yang sangat alim dan berwibawa. Beliau dihormati bukan hanya di Madura Barat, tapi juga di seluruh Madura. Banyak ulama Madura dan Jawa memiliki sanad keilmuan yang tersambung hingga dirinya.
Beliau sering disebut sebagai Wali Agung di Sampang, menegaskan statusnya sebagai tokoh spiritual penting dalam sejarah Islam Madura.
Legenda Doa Songay Rajeh: Kisah Mistis Buaya Putih
Salah satu warisan paling terkenal dari Pangeran Khotib Mantoh adalah ijazah doa atau wirid Songay Rajeh (Sungai Besar). Doa ini terkenal ampuh tapi memiliki syarat ketat.
Konon, menurut cerita turun-temurun, Pangeran Khotib Mantoh mendapatkan doa ini langsung dari Nabi Khidzir A.S. setelah bertapa selama 40 tahun di dasar laut. Dalam legenda, Nabi Khidzir mendatanginya dalam wujud buaya putih raksasa, lalu menyuruhnya masuk ke dalam mulutnya untuk menerima doa dan wejangan.
Keampuhan dan Aturan Ketat Wirid Songay Rajeh
Doa Songay Rajeh dikenal memiliki keampuhan luar biasa, tetapi penggunaannya sangat dibatasi:
- Tidak boleh dibaca di tempat beratap, termasuk di dalam rumah atau kendaraan. Jika dilanggar, konon atap rumah akan roboh atau ban kendaraan meletus.
- Pengamalnya dilarang keras berbuat zina. Konon jika melanggar, alat kelamin akan rusak parah atau putus dengan sendirinya.
Tradisi Pengijazahan: Hanya untuk Keturunan
Pengijazahan doa Songay Rajeh tidak bisa sembarangan. Hanya keturunan langsung Pangeran Khotib Mantoh yang boleh memberikannya. Di Sampang, keturunan yang dikenal memberikan ijazah ini di antaranya:
- Keluarga Pengasuh Pesantren Al-Haromain, Duwek Pote Sampang
- Kiai Tengginah di perbatasan Kecamatan Omben Sampang dan Kecamatan Proppo Pamekasan
Uniknya, doa Songay Rajeh tidak pernah boleh ditulis. Pengijazahan dilakukan lisan saja, tanpa alas kaki, dan di tempat terbuka tak beratap. Biasanya, pengijazah melafalkan doa tiga kali. Kalau pendengar belum hafal saat itu juga, berarti belum waktunya untuk mengamalkan doa tersebut.
Penutup: Warisan Spiritual Madura yang Tetap Hidup
Kisah Pangeran Khotib Mantoh bukan hanya cerita sejarah, tapi juga cermin kekayaan budaya dan spiritual Madura. Makamnya yang terus diziarahi, sanad keilmuannya yang dijaga, dan wirid Songay Rajeh yang dijunjung penuh hormat menjadi bukti bahwa sosoknya tetap hidup dalam ingatan masyarakat.
Bagi siapa pun yang tertarik dengan sejarah Islam di Madura, nama Pangeran Khotib Mantoh adalah pintu masuk ke cerita panjang tentang spiritualitas, tradisi, dan kepercayaan yang tak lekang oleh zaman.
