MADURA – Hari ini, 22 Agustus 2025, menandai tepat 140 tahun sejak peristiwa bersejarah yang mengubah wajah Pulau Madura selamanya. Pada tanggal yang sama di tahun 1885, Pemerintah Kolonial Belanda secara resmi membubarkan Kepanembahan Madura Barat dan membentuk dua kabupaten baru: Bangkalan dan Sampang.
Akhir Era Kerajaan, Awal Era Kolonial Langsung
Besluit yang Mengubah Segalanya
Melalui Besluit van den Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indië van 22 Augustus 1885 No. 2/C (Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 22 Agustus 1885 No. 2/C), seluruh tatanan pemerintahan tradisional Madura Barat dirombak total. Keputusan ini bukan sekadar pergantian sistem pemerintahan, tetapi juga penghapusan identitas politik yang telah berabad-abad menjadi kebanggaan masyarakat Madura.
Dokumen bersejarah ini menjadi bukti nyata bagaimana kolonialisme Belanda secara sistematis menghancurkan struktur kekuasaan tradisional Nusantara demi memperkuat cengkeraman mereka.
Isi Besluit: Pembongkaran Total Sistem Monarkhi
1. Penghapusan Pemerintahan Sendiri (Inlandsch Zelfbestuur)
Poin pertama dan paling krusial dari Besluit ini adalah penghapusan total sistem pemerintahan sendiri yang telah berlaku di Kepanembahan Madura. Belanda dengan tegas menyatakan:
“Pemerintahan sendiri beserta segala atributnya, sejauh masih berlaku dalam bekas Kepanembahan Madura, dinyatakan telah dihapuskan.”
Wilayah yang tadinya bersatu di bawah Kepanembahan Madura Barat kemudian dipecah menjadi dua kabupaten: Bangkalan dan Sampang, yang langsung berada di bawah kendali Karesidenan Madura.
2. Penghapusan Sistem Tanah Apanage
Sistem tanah apanage yang menjadi tulang punggung ekonomi para bangsawan dan prajurit kerajaan dihapuskan. Ini berarti:
- Para anggota Barisan kehilangan hak atas tanah mereka
- Bangsawan kehilangan sumber penghasilan utama
- Struktur feodal tradisional hancur seketika
3. Kompensasi untuk Keluarga Kerajaan
Sebagai “ganti rugi” atas hilangnya tanah apanage, Belanda memberikan tunjangan pribadi kepada:
- Anak-anak dari tiga raja terakhir Madura
- Kerabat sedarah keluarga kerajaan
- Kerabat melalui perkawinan
Namun, tunjangan ini tidak dapat dialihkan dan nilainya jauh lebih kecil dibanding penghasilan dari tanah apanage yang mereka miliki sebelumnya.
4. Tunjangan untuk Para Mantri
Para mantri (pejabat istana) yang kehilangan jabatan mereka juga diberikan tunjangan pribadi sebagai bentuk “bantuan”. Ini merupakan strategi Belanda untuk meredam potensi perlawanan dari kalangan birokrat tradisional.
5. Perampasan Harta Kerajaan
Seluruh pusaka kerajaan (rijksieraden) dan aset-aset penting lainnya dirampas oleh Pemerintah Hindia Belanda, termasuk:
- Pusaka kerajaan yang bernilai sejarah tinggi
- Barang bergerak dan tidak bergerak milik kerajaan
- Properti yang diperuntukkan bagi kepentingan umum
6. Transformasi Korps Barisan
Korps Barisan, pasukan elite kerajaan, tidak dibubarkan tetapi diubah menjadi “Barisan Pemerintah” di bawah kendali Belanda. Anggota korps kehilangan hak atas tanah mereka dan hanya menerima gaji dari pemerintah kolonial.
7. Pengangkatan Bupati Pertama
Mulai 1 November 1885, Belanda mengangkat:
- Pangeran Soerjonegoro sebagai Bupati Bangkalan pertama
- Raden Ario Koesoemoadiningrat sebagai Bupati Sampang pertama
Kedua tokoh ini dipilih karena dianggap kooperatif dengan pemerintah kolonial.
Latar Belakang: Mengapa Madura Barat Dibubarkan?
Strategi Divide et Impera
Pembubaran Kepanembahan Madura Barat merupakan bagian dari strategi “divide et impera” (pecah belah dan kuasai) yang diterapkan Belanda di seluruh Nusantara. Dengan memecah wilayah yang bersatu, Belanda lebih mudah mengontrol dan mengeksploitasi sumber daya.
Konflik Internal yang Dimanfaatkan
Belanda memanfaatkan konflik internal dalam keluarga kerajaan Madura untuk membenarkan intervensi mereka. Persaingan antara para pangeran dijadikan alasan untuk “menertibkan” pemerintahan.
Kepentingan Ekonomi
Madura memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan dan potensi ekonomi yang besar. Dengan kontrol langsung, Belanda dapat mengeksploitasi sumber daya tanpa harus berbagi dengan penguasa lokal.
Dampak Jangka Panjang: 140 Tahun Kemudian
Identitas yang Terpecah
Hingga hari ini, 140 tahun kemudian, dampak pembubaran Kepanembahan Madura Barat masih terasa:
- Bangkalan dan Sampang berkembang sebagai entitas terpisah
- Identitas kesatuan Madura Barat hampir terlupakan
- Generasi muda tidak mengenal sejarah monarkhi mereka
Hilangnya Warisan Budaya
Banyak pusaka kerajaan dan dokumen sejarah yang hilang atau dibawa ke Belanda. Ini menyebabkan:
- Kesulitan dalam penelusuran sejarah lokal
- Hilangnya artefak budaya yang tak ternilai
- Putusnya mata rantai tradisi kerajaan
Transformasi Sosial-Politik
Sistem pemerintahan modern yang ada sekarang merupakan evolusi dari struktur yang dipaksakan Belanda:
- Sistem kabupaten menggantikan kepanembahan
- Birokrasi modern menggantikan struktur feodal
- Demokratisasi menggantikan monarkhi
Refleksi 140 Tahun: Pelajaran dari Sejarah
Pentingnya Persatuan
Perpecahan internal dalam kerajaan Madura menjadi celah masuknya intervensi asing. Ini mengajarkan pentingnya persatuan dalam menghadapi ancaman eksternal.
Nilai Kedaulatan
Hilangnya kedaulatan Madura Barat mengingatkan kita akan pentingnya mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata.
Pelestarian Sejarah
Peringatan 140 tahun ini menjadi momentum untuk:
- Mendokumentasikan sejarah lokal yang tersisa
- Mengedukasi generasi muda tentang masa lalu mereka
- Melestarikan tradisi dan budaya yang masih bertahan
Madura Hari Ini: Warisan dari Masa Lalu
Bangkalan Modern
Kabupaten Bangkalan, yang lahir dari pembubaran Kepanembahan, kini menjadi:
- Gerbang utama Pulau Madura melalui Jembatan Suramadu
- Pusat ekonomi dan pendidikan di Madura bagian barat
- Pewaris sebagian tradisi Kepanembahan Madura Barat
Sampang Berkembang
Sampang, meski menghadapi berbagai tantangan, telah berkembang menjadi:
- Kabupaten dengan kekayaan sumber daya alam
- Pusat produksi garam nasional
- Penjaga tradisi budaya Madura yang kental
Mengenang Tanpa Dendam, Belajar Tanpa Lupa
Peringatan 140 tahun pembubaran Monarkhi Madura Barat bukan untuk membangkitkan sentimen anti-kolonial yang sudah usang. Ini adalah momen untuk:
- Memahami akar sejarah – Mengetahui dari mana kita berasal
- Menghargai perjuangan – Mengapresiasi pengorbanan para pendahulu
- Membangun masa depan – Belajar dari kesalahan masa lalu
Penutup: Madura Tetap Bersatu dalam Keberagaman
Meski secara administratif terbagi menjadi empat kabupaten (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep), jiwa dan semangat Madura tetap satu. Pembubaran Kepanembahan Madura Barat 140 tahun lalu tidak mampu menghapus ikatan budaya, bahasa, dan darah yang menyatukan orang Madura.
Hari ini, 22 Agustus 2025, mari kita jadikan momentum untuk:
- Memperkuat persatuan Madura
- Melestarikan warisan budaya
- Membangun Madura yang lebih maju tanpa melupakan sejarah
Sejarah mengajarkan, bangsa yang melupakan masa lalunya adalah bangsa yang kehilangan jati dirinya. 140 tahun telah berlalu, namun semangat Madura tetap abadi.
Sumber
