World Press Freedom Day : jurnalis dan berbagai berita hoaks

World Press Freedom Day : jurnalis dan berbagai berita hoaks 1

Oleh; Luluk Fariseh

Dunia digital, kecanggihan teknologi serta kecepatan informasi berimbas pada kredibilitas informasi yang beredar. Lebih lanjut, dunia pers juga menjadi salah satu ladang informasi yang semakin penuh keambiguan di jahat maya.

Sejak ditetapkan nya hari kebebasan pers sedunia oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tepat pada desember 1993 dan menetapkan tanggal 3 mei sebagai hari kebebasan pers nasional, dikutip dari situs Kompas.com, ditetapkannya hari kebebasan pers internasional karena adanya rekomendasi yang diadopsi pada sesi ke-26 Konferensi UNESCO pada 1991 dan dan menyebabkan adopsi Deklarasi Windhoek tentang Mempromosikan Media Independen dan Pluralistik.

Deklarasi Windhoek menyerukan untuk membangun, memelihara, dan menumbuhkan pers yang independen, majemuk, dan bebas.
Hari kebebasan pers internasional ini haruslah diserukan sebagai pengingat kepada seluruh masyarakat utamanya pemerintah agar tidak ada lagi wartawan, editor, maupun penerbit yang mendapat perlakuan buruk, dilecehkan, ditahan hingga ada yang dibunuh.

Tidak etis jika jurnalis yang berjuang mengumpulkan lalu memberikan informasi kepada seluruh masyarakat akan tapi masih mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Jurnalis hari ini tidak hanya bertindak untuk menyajikan berita – berita faktual, akan tetapi bagaimana mengalahkan berita berita hoax utamanya di media sosial yang sudah tidak terkendali akhir – akhir ini.
Berita hoax yang semakin hari semakin menjadi jadi harus lah kita lawan bersama, ketika jurnalis dengan senang hati menyajikan informasi, kita sebagai masyarakat haruslah bijaksana dalam menanggapi berita atau lebih jelasnya menshare berita atau informasi. Jurnalis hari ini dituntut untuk memproduksi berita atau informasi yang dapat dicerna oleh khalayak banyak sehingga tidak ada lagi misunderstanding atau misinterpretation dalam menyikapi suatu informasi sehingga masyarakat umum tidak lagi termakan oleh berita – berita yang tidak jelas sumbernya atau biasa disebut berita hoax. Dengan semakin canggihnya teknologi informasi, tidak lagi terkejut jika informasi – informasi yang belum jelas sumbernya menyebar secara cepat, karena kebebasan dalam mengakses berita di internet sangatlah mudah sehingga think before posting haruslah diserukan terus menerus.

Sehingga jurnalis hari ini haruslah menyajikan berita berita yang mengandung kebenaran sebuah informasi. Tidak hanya itu, independensi jurnali disokong oleh berbagai pengetahuan yang mumpuni di bidang jurnalistik. Sebab, untuk berada di dunia jurnalis. Membutuhkan skill dan kemampuan lain yang harus mumpuni.

Disamping itu, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dengan sikap keadilan dalam menganalisa sesuatu diserta berbagai pertimbangan dalam sebuah konflik, rasanya menjadi hal yang sangat urgent bagi seorang jurnalis saat ini.

Dengan tidak mengeyampingkan Kebebasan bereksperi, berpendapat. Penulis meyakinkan diri bahwa diantara berbagai berita yang belum jelas sumber otoritasnya, masih banyak jurnalis yang masih berpegang teguh pada nilai-nilai kemanusiaan.

Selamat hari kebebasan pers internasional.

Penulis;

Luluk Fariseh, mahasiswi IAIN Madura. Aktifis IPPNU.

Beri Komentar Anda