Beranda Seni Tellasan Topa’ (Lebaran Ketupat) Ala Warga Sampang

Tellasan Topa’ (Lebaran Ketupat) Ala Warga Sampang

55
0

Bagi warga Madura, Lebaran Ketupat atau dalam bahasa Maduranya lazim dengan sebutan Tellasan Topa’, merupakan puncak perayaan Idul Fitri. Bahkan suasananya terbilang jauh lebih semarak dari awal Lebaran, yaitu 1 Syawal. Seperti halnya yang terjadi di Sampang. Berbagai tradisi unik dilakukan warga Sampang saat Telasan Topak. Apa saja?

BERKUNJUNGLAH ke Desa Dharma Tanjung, Kecamatan Camplong saat Tellasan Topa’. Suasana kampung pesisir tersebut bakal berubah semarak. Saat koran ini melintas di desa tersebut, kemarin (8/10), suasana tampak lain dari biasanya. Hampir seluruh warganya mejeng di pinggir jalan dengan baju barunya. Tidak hanya anak kecil yang lucu, para muda-mudi, bahkan ibu-ibu juga tak mau ketinggalan. Sebagian di antara mereka ada yang hanya sekadar nongkrong di teras rumah. Bahkan ada yang berbondong-bondong naik andong.

Itulah bagian dari tradisi turun temurun warga desa ujung timur Sampang tersebut yang disebut pir-piran alias naik andong. Sebab arti pir sendiri menurut warga setempat adalah andong.

“Pir sebutan orang Madura untuk andong roda 4 di zaman dulu. Sekarang andong hanya beroda 2 dan berganti nama jadi dokar,” terang Sufyan, warga Desa Tanjung Sampang.

Berdasar cerita neneknya, menaiki andong saat Tellasan Topa’ merupakan bagian dari tradisi warga setempat yang terjaga dari masa ke masa. Tradisi unik tersebut bahkan kabarnya tidak hanya dimiliki warga Desa Tanjung. Namun berjabat erat dengan kebiasaan warga Desa Bandaran, Pamekasan. Kebetulan, kedua tetangga desa ini merupakan pemisah antara teritorial Pamekasan dan Sampang.

“Maksud dan tujuan naik andong adalah untuk menjalin tali silaturahmi saat Lebaran yang dilakukan oleh warga Desa Tanjung dan Desa Bandaran yang kebetulan memiliki hubungan kekerabatan. Jadi tradisi itu juga dipakai di Desa Bandaran,” terang Sufyan.

Tak jarang saat Tellasan Topa’ sepanjang perjalanan dari Desa Bandaran menuju Tanjung kerap kali macet. Bahkan tergolong padat merayap. Situasi tersebut juga terjadi kemarin pagi. Bahkan semakin sore, simpul kemacetan semakin tak terurai. Sebab warga dua desa tersebut menambahi tradisi pir-piran itu dengan adu nyaring sound system. Tak puas hanya duduk sambil berdangdut-ria, warga kini mayoritas mengusung sound system-nya di atas kendaraan roda empat. Bahkan tak jarang diusung di atas truk.

Seiring bergulirnya waktu, tradisi tersebut kini telah berubah makna. Naik andong yang menjadi ajang untuk mengikat tali silaturahmi mengalami peralihan makna. Hal tersebut diakui oleh Hamidah, warga desa setempat. “Kalau orang dulu naik andong itu memang sebagai transportasi untuk menjalin silaturahmi. Tapi sekarang malah dijadikan untuk senang-senang semata,” ujar nenek 1 cucu tersebut.

Terjadinya perubahan tradisi tersebut menurut Hamidah adalah imbas dari perubahan masa. “Kalau anak-anak zaman sekarang sudah tidak mau tradisi. Sebagian di antara mereka sengaja naik andong hanya untuk mejeng,” tambahnya dengan logat Madura yang kental.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here